Nasib orang memang lain-lain. Dewi Fortuna berpihak kepadanya. Pinto memang aseli Timor Timur. Dia memang pantas untuk hidup di tanah airnya. "Pinto... selamat berjuang dan menjabat jabatan baru. Semoga Alloh SWT meridhoi & menyelamatkanmu. Amien."
beberapa bulan yang lalu, dalam sambutannya sebagai Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. DR. H. Din Syamsuddin, MA, mengatakan bahwa sbg kader Muhamadiyah sbelum menjabat sbg Menteri Pertahanan, Julio Thomas Pinto sempat meminta restu kepadanya.
Pasca Studi S2 dan jajak pendapat di Timor Timur, aku dengar & baca lewat media katanya dia diangkat d Departemen Luar Negeri masa Pemerintahan Xanana Gusmao. Dan ketika ada Forsila Alumni Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) Se-Indonesia d UMY Yogyakarta
Pinto studi lanjut S2 bidang politik di FISIP Universitas Indonesia (UI). Suatu ketika, karena Pinto merupakan salah seorang Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dia diundang IMM Cabang Banyumas (Purwokerto) dalam suatu acara. Namun aku nda ketemu.
Arif Wijaya Nur Rakhman (UMS Surabaya), Nopry W. Aqsha (UMB Bengkulu), Ah. Anas MY (UMM Mataram), Safwan (STIEM Samarinda), dll. Selepas Soeharto turun setelah berkuasa selama 32 tahun, kami pun berpisah lama. Dengar - dengar menurut informasi,
Wkt itu semua Peserta Forsila SM PTM Se-Indonesia terutama Ketua2 Senat Mahasiswa-nya datang ke Gedung DPR/MPR. Cahyadi Fitri (UMY), Julio Thomas Pinto (UMM Malang), M. Mahfud Faozi (UMS Surakarta), Aku- Ade Sutisna (UMP Purwokerto), Harenaredi (UMJ),
Ketika Forsila SM PTM itu pula kami bersama - sama ketemu dengan DPR di Gedung DPR / MPR untuk menyalurkan Aspirasi Mahasiswa yaitu Reformasi di segala bidang termasuk Suksesi Kepemimpinan Soeharto. Juru bicara kami waktu itu adalah Cahyadi Fitri (SM UMY)
Berkat kerelaan & kerjasama yg baik dr kawan2 Tri Sakti & Untar, kami dapat keluar dr jebakan itu lewat jalan alternatif melalui Kampus Universitas Tarumanegara yg letaknya bersebelahan dg Usakti. Alhamdulillah kita berhasil lolos.
lengkap. Sesekali tembakan menyalak & mengarah ke kami, ke dalam kampus. Dalam suasana duka itu, orasi terus digelar. Perwakilan kami dari Forsila SM PTM pun ikut ambil bagian utk tampil. Semakin sore suasana makin memanas. Kami pun terjebak d kampus itu
Selepas Forsila kami sempatkan mengantar karangan bunga & menengok kawan2 d Kampus Tri Sakti. Di sana, selepas gugurnya Pahlawan Reformasi Elang Mulia, dkk., suasana sangat mencekam. Di luar Kampus Tri Sakti dikepung dg Pasukan Anti Huru-hara bersenjata
Dari Forum Silaturrahmi (FORSILA) SM PTM Se-Indonesia d Malang '97 hingga FORSILA 9-14 Mei '98 d UHAMKA Jakarta. Di Jkt ktika itu sangat mencekam. Dari Tragedi Tri Sakti hingga kerusuhan, kami terkunci d sana. 15 Mei kita baru bisa keluar dr Jakarta.
Stelah diskusi itu, aku jd ingat Pinto (Julio Thomas Pinto - sekarang Menhan Timor Lorosae). Pinto adalah mantan aktivis Gema '98 seangkatan dgn ku, cuman dia Ketua SM UMM Malang, aku Ketua SM UMP Purwokerto. Kita sering ktemu baik d Jkt maupun d Malang.