Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 September 2008

Tantangan Indonesia, Susutnya Budaya Baca

Oleh : BK.Wibowo

Menurut John Naisbitt, abad kita saat ini sudah mengalami pergeseran ke arah
Visual Culture, ini ditandai dengan menurunnya oplah koran (di Amerika),
pergeseran bentuk dari koran ke tabloid, novel ke graphic novel, dan
mencuatnya disain sebagai keunggulan kompetitif (iPod, MacBook).

Sesuatu akan berevolusi apabila bentuk baru dirasa lebih adaptif terhadap
lingkungan. Dalam hal ini, pergeseran budaya dari tulisan ke arah visual
menandakan bahwa bentuk visual dapat lebih diterima oleh masyarakat umum.
Kemudahan belajar dengan menggunakan mindmap juga membuktikan itu.

Anak kecil belajar dengan pengalaman. Mereka mencari pengalaman yang
menyenangkan, dan menghindari pengalaman yang tidak menyenangkan.

Sistem pendidikan kita masih menganut budaya tulisan, ini karena pada
awalnya orang dianggap pandai jika menguasai budaya tulisan. Akhirnya para
pendidik pun sebagian besar masih menganut budaya tulisan. Dan akhirnya ini
yang membentuk mindset bahwa turunnya minat membaca sebagai sesuatu yang
patut dikhawatirkan.

Menurut saya, yang patut dikhawatirkan adalah turunnya minat belajar. Tidak
perlu dipersoalkan dengan cara apa manusia belajar, baik itu tulisan maupun
visual. Tulisan dalam hal ini juga awalnya digunakan untuk mencatat sejarah,
menyebarkan ataupun mewariskan suatu ilmu atau pengetahuan. Mengapa tulisan
pada awalnya berkembang? Karena sistem percetakan jaman dulu lebih mudah
untuk mencetak tulisan, dalam artian tulisan lebih mudah untuk di-scale up.
Jika saat ini teknologi percetakan visual maupun multimedia digital telah
mampu mengakomodasi kebutuhan mewariskan ilmu, why not?

Yang menjadi persoalan, adalah kurangnya materi bahan pengajaran dalam
bentuk visual. Ini menurut saya, karena sedari awal tim penyusun kurikulum
didominasi oleh orang dengan kemampuan otak kiri yang menonjol, sehingga
pengajaran dalam bentuk visual masih belum bisa diterima secara luas.

Mizan sendiri setahu saya dulu juga sempat menerbitkan buku-buku pengetahuan
dalam bentuk komik/graphic novel, tapi sekarang tidak saya temui lagi di
Gramedia. Mungkin topik-topik yang diambil saat itu cukup berat, seperti
Mekanika Quantum maupun Chaos Theory.

Jadi sebaiknya bukan memaksakan minat baca kepada anak, tetapi menumbuhkan
minat belajar anak dengan mengakomodasi kebutuhan belajar anak dengan cara
yang mereka suka. Dan jika cara belajar yang lebih disukai adalah cara
belajar dengan multimedia, solusinya sekarang adalah penyediaan materi
belajar berbasis multimedia.

Saat ini dengan akses internet di Indonesia yang masih terbatas, masih lebih
mudah buat saya untuk "menulis" email ini. Tapi mungkin suatu hari kita akan
saling mengirimkan video kita sedang berbicara dalam milis ataupun dengan
cara lain yang lebih multimedia :)
***

Sumber :
Mailis DikBud@yahoogroups.com
Selasa, 23 September 2008

Sabtu, 20 September 2008

NUZULUL QURAN ALA FAMILIY LAUNDRY

Oleh: Udo Yamin Majdi

Di atas meja ruang tamu, HP berbunyi. Isteriku yang berada di kamar anakku, melangkahkan kaki keluar. Sedangkan aku di kamar sebelah —kamar tidur kami. Dari atas ranjang, aku mendengar isteriku menjelaskan alamat rumah kami. Di ujung percakapan, isteriku berkata, "Boleh enggak kalo 17 potong baju diganti dengan sepotong selimut!"

Mendengar percakapan itu, aku langsung ingat obrolan kami kemaren, ketika aku pulang dari audiensi dengan Dubes di Garden City dan isteriku baru selesai ifthar jama'i bersama para isteri yang tinggal di Qatameya. Isteriku menceritakan bahwa ada offline dari YM (Yahoo Messenger) Family Laundry memberikan kesempatan mencuci gratis 17 potong pakaian bagi 17 orang, dengan merespon offline dan mengisi data ini: "Family 17, Nama, nomor imarah (apartemen), nomor saqah (flat), district, dan nomor hp." Isteriku segera menulis data dan mengirimkannya ke ID Family Laundry.

"Buya", kata isteriku, "gimana nih, baju kotor udah pada bunda rendam, sebab bunda kira offline itu canda!"

"Ya udah, cari aja yang lain, kasihan tuh orang udah mau datang dari jauh, siapa sih orangnya?"

"Enggak tahu, pas chatting, bunda tanya, eee... jawabannya "Family Laundry hanya di HP Anda"!

Aku dan isteri sibuk mencari baju kotor yang akan kami berikan kepada orang misterius itu. Aku bertanya-tanya dalam hati, siapakah gerangan, apakah aku mengenalnya atau tidak? Beberapa menit kemudian HP berbunyi kembali. Aku angkat. Di ujung sana, terdengar suara yang sedikit aku kenal, namun aku agak lupa. Dia katakan bahwa dia sudah di depan masjid An-Nur Mahattoh Giza, Qatameya. Aku memberikan rambu-rambu menuju ke rumahku.

Tiga menit kemudian, sebuah mobil sedan berwarna biru dongker melaju dengan perlahan dekat rumahku. Dari balkon rumah di lantai empat, aku melambaikan tangan. Karena mataku minus, maka aku tidak tahu siapa yang menyetir mobil itu.

"Buya aja deh yang turun!" pintaku sembari mengambil kantong plastik berisi 17 pakaian kotor dari tangan kanan isteriku. Aku benar-benar penasaran, siapakah orang itu. Dengan tergesa-gesa aku menuruni tangga imarah. Ketika di bawah, orang itu keluar dari mobil. Tapi, wajahnya membelakangiku.. Setelah aku dekati, dia menengok dan ternyata orang itu bukan orang asing bagiku.

"Ternyata.... antum ya akhi!" teriakku setelah mengucapkan salam. Kami pun berjabat tangan erat, seperti seorang anak dan orang tua yang berpisah puluhan tahun. Dia pun tak kalah kagetnya, "Lho, kok ustdaz tinggal di sini, bukan di Nasr City?"

"Enggak, bulan kemaren saya pindah ke sini!" jawabku.

Aku mengenal dia ketika dia sering tampil dalam acara-acara massif di kalangan mahasiswa Indonesia Mesir —sering mengisi acara operet dan pembawa acara— dan ketika dia mendirikan jasa pengiriman uang. Lebih kenal lagi, saat aku mengundangnya untuk mengisi acara Leadership Intermedite Training (LIT) di Perwakilan Pelajar Islam Indonesia (Pwk PII) Mesir. Dia memberikan materi tentang enterpreneurship, wirausaha. Aku mengusulkan kepada tim instruktur LIT mengundangnya, karena aku salut dengan kepribadian dan cara bisnisnya, terutama sifat dermawannya.

Dia orang Madura asli. Alumni Pondok Pesantren Modern Gontor. Dia ke Mesir, tahun 2003, angkatan Mardloti. Dia kuliah di Universitas Al-Azhar Cairo. Dia menikahi seorang mahasiswi peserta Leadership Basic Training (LBT) di Pwk PII Mesir. Karena aku menjadi istruktur acara itu, maka aku kenal juga dengan isterinya.

Lantas, apa yang aku kagumi dari dia?

Tahun kedua kedatanganya di Mesir, dia mendirikan jasa pengiriman uang. Ternyata, keuntungan bisnis ini, bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk membantu orang lain. Dia menjadi orang tua asuh beberapa mahasiswa Indonesia yang membutuhkan santunan. Dia juga sering menjadi donatur atau sponsor berbagai acara Masisir.

Ketika kami bertemu pada acara LIT itu, dia menceritakan bahwa dia telah memiliki beberapa cabang pengiriman uang di Indonesia. Kalau tidak salah ada tiga cabang. Lagi-lagi aku terharu, sebab keuntungannya, dia salurkan untuk menggaji guru dan membiayai sebuah lembaga pendidikan di kampung halamannya. Namun, walaupun demikian, keuntungan bersih yang dia terima, masih tetap besar. Ketika itu, dia bilang antara 2 hingga 3 juta rupiah perbulan. Bagi mahasiswa di Mesir, uang sebesar itu lebih dari cukup untuk biaya hidup sehari-hari.

Dan hari ini, dia datang sebagai malaikat yang jauh dari daerah Bawwabah di Nasr City Cairo dan datang ke Qotameya, sekitar 20 Km dari rumahnya, hanya untuk mengambil cucian kami. Aku memberikan cucian itu dan berkata, "Afwan ya, jadi merepotkan antum!"

"Ah enggak ustadz. Inilah cara saya memperingati nuzulul quran. Saya ingin di hari 17 ramadlan saya mencucikan 17 pakaian dari 17 orang. Saya enggak bisa seperti orang lain memperingati nuzulul quran dengan cara ceramah, berdzikir, dan sejenisnya, saya hanya bisa melakukan ini, bantu nyuci-in baju orang. Mudah-mudahan ini termasuk amal ibadah dan diterima oleh Allah Swt.!"

"Amin... Sama dong, saya juga tidak bisa memperingati nuzulul quran dengan cara seperti orang lain. Yang bisa saya lakukan, hanya menggelar acara Talk Show Menerjemah. Saya juga tidak bisa membalas kebaikan antum, selain menulis, makanya saya selama ini mengisi acara menulis karena inilah jihad saya, sebab saya tidak bisa memberikan apa-apa kepada orang lain, selain tulisan dan mengajari orang lain menulis!"

Kami pun mengobrolkan tentang Sekolah Menulis SMART dan acara Talk Show Menerjemah bersama Dubes dan tokoh Masisir besok di Pasangrahan di KPMJB. Dia meminta, kalau ada buku, modul atau makalah hasil acara ini, dia ingin memiliki. Aku pun mengatakan, insya Allah, pihak penitia akan merekam acara besok dan memvideokannya. Dan rekaman itu akan panitia buat transkrip dan CDnya, supaya orang yang tidak hadir dan butuh bisa menonton sekaligus membaca pembicaraan para pemateri.

Dia pamit. Aku melepas kepergiannya dengan do'a. Aku yakin, ada 16 orang lagi, mungkin sedang mendo'akannya. Aku berazam ingin mengikuti langkahnya yang selalu membantu orang lain dan memberikan kebaikan.

Sambil menaiki tangga, aku merenungi diskusiku bersama isteriku 15 menit sebelum temanku pemilik family laundry itu datang. Kami mendiskusikan tentang buku The Secret. Obrolan kami ini bermula tatkala kami membaca MP (multiply) seorang teman yang meceritakan buku karya Rhonda Byrne.

Aku sudah membaca buku The Secret dan menonton filmnya. Sebenarnya, tidak ada hal yang baru bagi. Malahan menurutku, meskipun ada beberapa hal --misalnya tentang husnudzon (berpikir postif), bersyukur, berserah diri (taslim), berdo'a-- yang aku setujui, sebab itu memang ajaran Islam, namun dari segi inti buku itu tentang teori law of atraction (LOA) dan "alam semesta" --secara halus penulis buku itu ingin meneguhkan tentang ajaran ateis, bahwa tuhan itu tidak ada, yang ada adalah alam semesta-- aku tolak sebab menyesatkan. Ditambah, buku itu hanya mengajari orang menjadi "pengkhayal", bukan pemimpi atau visi.

Betapa tidak, LOA tidak dapat menjelaskan hukum itu dalam segala bidang. Menurutku, bukan LOA, melainkan LTG (law of take and give) ini yang betul. Hukum memberi dan menerima ini, sebagaimana dari kata "rahmat". Dalam bukuku "Quranic Quotient: Menggali & Melejitkan Potensi Melalui Al-Quran", aku menuliskan bahwa inti dari hidup ini adalah basmalah --bismillâhirrahmânirrahîm.. Di sini dengan jelas bahwa inti hidup adalah Allah dan prinsip yang berlaku adalah sifat Allah, ar-rahman dan ar-rahim, yang berasal dari kata "rahmat", yang berarti "memberi".

"Bisakah teori LOA menjelaskan hubungan buya dengan gelas ini bahwa kami saling mempengaruhi?" aku bertanya kepada isteriku saat membantah buku The Secret. LOA ternyata tidak bisa dipakai, bahwa aku dan gelas bisa terjadi "tarik-menarik". Beda bila menggunakan hukum memberi-menerima, bisa aku fahami. Bila aku mencuci gelas (aku memberikan kebaikan kepada gelas), maka aku bisa memakainya (gelas memberikan kebaikan kepadaku). Begitu juga dengan alam semesta, apapun yang kita berikan kepada alam semesta, maka Allah swt akan meminta malaikat untuk menggerakan alam semesta untuk berbuat sesuai dengan perintah Allah. Dan Allah telah mengatakan dalam Al-Quran, siapa yang berbuat baik, akan Dia balas dengan kebaikan pula. Sebaliknya, siapa yang memberikan kejelekan, maka akan kembali kepada orang yang berbuat.

Adapun kelemahan buku The Secret lain, tidak menunjukan cara (how to) untuk meraih keinginan. Sehingga mengajak orang berkhayal, bukan bermimpi, sebab tanpa penekanan untuk melakukan sesuatu. Dan ini bertentangan dengan apa yang aku fahami selama ini, terutama ajaran Al-Quran. Aku sepakat dengan pendapat Muhammad Iqbal dalam bukunya The Recontruction of Religious in Islam bahwa Al-Quran adalah kitab yang lebih mengutamakan "amal" ketimbang "gagasan".

Ketika menjelaskan konsep hukum memberi-menerima dan kelemahan buku The Secret itu, aku meminta isteri untuk memberikan beberapa potong Tahu kepada tetangga kami. Aku sadar, memasuki sepuluh hari kedua bulan suci Ramadlan seharusnya aku banyak memberi, sebab ini fase "rahmat" —setelah fase barokah dan sebelum memasuki fase maghfirah dalam bulan suci Ramadlan. Betapa ingin aku memberikan sesuatu untuk orang lain, namun aku tidak memiliki apa-apa, selain Tahu yang aku buat dua hari yang lalu. Sebab, di kulkas dan di dapur kami, hanya cukup persediaan beberapa hari saja. Meskipun aku bingung uang sewa rumah bulan ini dari mana, tapi itu tidak menyurutkan niatku untuk "memberikan" sesuatu kepada orang lain.

Di akhir diskusi itu, aku berkata, "Bunda, kalau buya udah selesai menulis sembilan buku modul untuk sekolah menulis SMART, buya akan nulis buku meng-counter pemikiran yang menyesatkan dalam buku The Secret itu ah!"

Bayangan obrolan ringan dengan isteriku hilang, ketika aku sampai di lantai empat. Aku masuk rumah. Aku menceritakan kepada isteriku tentang pemilik Family Laundry. Isteriku tertawa, sebab isteriku juga kenal dengan orang itu dan isterinya. Kami pun mengobrolkan kebaikan teman kami itu.

Sepuluh menit kemudian, isteri dan putraku ke rumah tetangga memberikan potongan Tahu agar mereka masak untuk ifthar, sedangkan aku ditemani putriku menulis catatan hari ini. Aku tidak bisa membalas kebaikan temanku itu selain lewat tulisan ini. Sebab, aku berharap, orang yang membaca tulisan ini, ikut mendo'kan "rojulun subhanallah" itu!

* * *



Siapakah orang itu? Sebenarnya, aku ingin menyebut nama orang itu, namun aku belum minta izin. Aku khawatir dia tidak setuju, sebab aku tahu dia orang yang tidak mau namanya disebut-sebut manusia, tapi ingin disebut-sebut oleh Allah swt.. Yang jelas jika Anda ingin tahu; ingin mengirim uang lewat dia; ingin mencuci pakaian, selimut, dan karpet, tinggal Anda telpon nomor HP ini: 0102608222 atau Anda kirim e-mail dan add ID ini: laundry_family@yahoo.com



* * *

Kejadian di atas, semakin menguatkan tentang hukum memberi-menerima. Dia telah memberikan jasa dengan mencucikan baju kami, maka dia menerima kebaikan dariku dengan menulis sekaligus mengiklankan bisnisnya. Atau, kami telah menerima kebaikannya —baju jadi bersih, maka aku memberikan kebaikan —dengan tulisan— kepadanya. Jadi, bukan tarik-menarik antara aku dengan baju, atau antara aku dengan temanku! Melainkan ada yang menggerakan kami, Allah menggerakan hati kami berbuat baik. Jangan tertipu dengan law of atraction (LOA)!!
* * *

Sumber :
Mailis Info-PMIK@yahoogroups.com
Ahad, 21 September 2008

Jumat, 19 September 2008

KETIKA ILMU TIDAK ADA BEDA DENGAN PUISI JOKO PIN DAN LAGU IWAN FALS

Oleh:
Cak Baskoro


Saat ini ada kecenderungan ilmu tidak ada bedanya dengan bermain gitar, menyanyi atau membaca sajak cinta, ilmu mulai kehilangan kegunaan praktis kecuali hanya nilai estetis, ilmu lebih diorientasikan kepada pemenuhan kepuasan jiwa ilmuwan daripa untuk usaha memecahkan masalah pragmatis. Ilmu menjelma menjadi pengetahuan yang harus dihafal, agar bisa dikemukakan pada saat berdebat, makin hafal teori up to date makin hebat. Kalau sudah begini ‘apa beda antara ilmu dengan puisi Joko Pin atau Lagu Iwan Fals? Kini saatnya kita kembalikan aksiologi ilmu pada tempatnya yang ”benar”.


Saya yakin banyak dari sampean bingung atau paling tidak sedikit mengernyitkan dahi dalam ’memaknai’ maksud judul di atas. Mungkin sampean bertanya-tanya, apa kaitannya ilmu dengan puisi Joko Pin dan Lagu Iwan Fals?. Sebagian besar orang mungkin menganggap tidak ada kaitannya antara ilmu dengan Puisi Joko Pin dan Lagu Iwan Fals. Namun jika sampean seorang pencermat acara televisi, terutama acara debat dengan melibatkan ilmuan-ilmuwan ternama Indonesia, atau sampean termasuk dalam golongan orang-orang iseng yang tidak ada pekerjaan lain, selain mencermati pergeseran orientasi aksiologi ilmu di Indonesia, atau sampean seorang mahasiswa yang terbiasa melihat dan mendengar dosen-dosen dan profesor sampean yang luar biasa ketajaman berpikirnya, namun ketajaman berpikir ini tidak punya nilai praktis dalam membantu memecahkan masalah dalam dunia nyata, saya yakin sampean dapat mengetahui atau paling tidak dapat meraba maksud dan makna judul di atas. Bagi
sampean yang tidak termasuk dalam ketiga golongan tersebut mari kita lihat bersama-sama apa yang mendasari saya ’berani’ mengatakan bahwa ada kecenderungan ilmu sudah tidak ada bedanya dengan Puisi Joko Pin dan Lagu Iwan Fals terutama untuk konteks Indonesia saat ini.

BUKTI PERGESERAN AKSIOLOGI ILMU

Barangkali bukan merupakan hal yang aneh jika hampir setiap hari kita melihat acara televisi menayangkan acara debat dengan menghadirkan para ilmuwan-ilmuwan ternama di negeri ini, atau kita sering menghadiri bahkan terlibat secara langsung dalam acara-acara semacam itu. Mereka para ilmuwan sambil duduk minum teh atau kopi hangat ditemani makanan ringan lainnya berdebat tentang berbagai masalah, dari masalah nuklir sampai dengan masalah anak jalanan, mereka dengan sangat lihai menyahut, menyanggah, mempertahankan pendapat dengan didasari oleh teori-teori ilmiah yang paling up to date, sangat luar biasa...mengaggumkan.... Setelah itu....? Selesai...., tidak ada manfaat praktis yang diperoleh selain tepuk tangan dan decak kagum dari peserta diskusi...cck....cck...cck...., atau sebuah kepuasan jiwa bagi ilmuwan yang telah berhasil membuktikan ketajaman berpikirnya di arena perdebatan yang menantang dan mempertaruhkan kredibilitasnya sebagai seorang
ilmuwan.

Kalau keadaanya sudah begini, kata Prof. Jujun, ilmu sudah tidak ada bedanya dengan bermain gitar, menyanyi atau membaca sajak cinta, ilmu tidak lagi mempunyai kegunaan praktis selain hanya kegunaan estetis, ilmu lebih ditujukan kepada pemenuhan kepuasan jiwa ilmuwan daripa memecahkan masalah praktis. Ilmu sekedar pengetahuan yang harus dihafal, agar bisa dikemukakan pada saat berdebat, makin hafal teori yang up to date maka semakin hebat. Pertanyaan selanjutnya ‘apa beda antara ilmu dengan puisi Joko Pin dan Lagu Iwan Fals?’, coba sampean pikirkan?..., jelas tidak ada bedanya kecuali perbedaan ejaannya i-l-m-u dan s-e-n-i, serta rombongan penggemar, rombongan penggemar iwan fals melabeli dirinya OI (orang Indonesia), rombongan penggemar slank melabeli dirinya Slanker, barangkali rombongan penggemar ilmuwan melabeli kelompoknya dengan nama kaum intelek, sedangkan secara esensi nyaris tidak ada beda diantara keduanya (ilmu dengan seni).

menurut hemat saya akar masalah dari hal ini adalah 'filsafat' mereka yang cenderung memandang rendah pekerjaan-pekerjaan yang berbau praktis-pragmatis, adalah tidak pada tempatnya jika seorang ilmuwan yang terhormat memikirkan masalah-masalah yang tidak sesuai dengan status sosial mereka, apa lagi melakukan tindakan-tindakan konkret, bukankah pekerjaan praktis yang memeras keringat adalah pekerjaan kaum kuli?...

KEMBALIKAN AKSIOLOGI ILMU PADA TEMPAT SEMULA

Kita semua sepakat bahwa Puisi Joko Pin dan Lagu Iwan Fals adalah fungsional (bermanfaat) bagi kehidupan kita, Puisi Joko Pin dan Lagu Iwan Fals memberikan kenikmatan batiniah, jiwa kita tergetar, terharu, tersentuh oleh lirik dan kata-kata yang artistik menembus dunia makna yang sulit terindra. Jiwa kita bertambah kaya, persepsi kita bertambah luas, diri kita bertambah dewasa dan boleh jadi hal ini akan merubah sikap dan perilaku kita menjadi lebih bijaksana. memang kita tidak bisa menutup mata bahwa banyak karya sastra dan lagu (seni) mampu mengubah sebuah peradaban di dunia ini.

Namun demikian harus tetap disadari, terdapat perbedaan fungsi antara seni dan ilmu, Lagu Iwan Fals mungkin menyadarkan kita tentang permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di negara kita, mungkin dengan lagu itu jiwa kita tergetar, menyadarkan kita bahwa sangat banyak permasalahan sosial disekitar kita, namun yang jelas kita tidak bisa memecahkan masalah sosial tersebut hanya dengan jiwa yang tergetar atau hanya dengan sekedar bernyanyi menyandang gitar. Ilmuwan perlu melakukan tindakan-tindakan konkret, tentu saja bukan dengan membentuk boy band atau vocal group melainkan melakukan kegiatan fungsional prakmatis berdasarkan keilmuan yang mereka miliki, bukan hanya sekedar berdebat tanpa manfaat praktis, kecuali hanya sekedar tepuk tangan atau decak kagum penonton (baca: peserta debat/diskusi) atas ketajaman berpikir mereka, sebagaimana ketika Joko Pin membacakan Puisi atau Iwan Fals menyanyikan lagu di hadapan para penggemarnya yang juga diiringi
tepuk tangan dan decak kekaguman...

Menyitir Tulisan Prof Jujun, buku teks ilmuwan itu seharusnya tidak jauh berbeda dengan buku Primbon dukun ramal yang digunakan untuk konsultasi masalah praktis, tentu saja yang membedakan diantara keduanya adalah asas dan prosedurnya, jika ilmuwan buku primbonnya berdasarkan asas dan prosedur ilmu (metode ilmu/ilmiah), sedangkan primbon dukun asas dan prosedurnya didasarkan pada metode ngelmu/klenik. Kadang kala saya berpikir, barangkali maraknya iklan per-klenikkan yang membanjiri media masa kita, serta kecenderungan semakin banyaknya orang mendatangi dukun/paranormal untuk memecahkan permasalahan-permasalahan hidup mereka, salah satunya disebabkan kegagalan para 'dukun ilmiah' ini (baca: ilmuwan) 'membumikan' teori-teori keilmuwan mereka, banyak dari mereka terjebak dengan hanya puas hanya sekedar tajam berpikir, tangguh ketika berdebat, namun 'impoten'ketika dihadapkan kepada kegiatan pemecahan masalah praktis.

Mungkin sampean menganggap saya sebagai seorang pragmatis, anggapan sampean barangkali ada benarnya, kalau kita mau berpikir lebih dalam, sebenarnya ilmu itu dikembangkan untuk apa? membantu mempermudah ’kehidupan’ manusia bukan?...

Ada Ilmuwan yang mau konser bareng dengan Iwan Fals atau Joko Pin?, sekedar membandingkan, tepuk tangan untuk siapa yang lebih meriah...

Bagaimana pendapat sampean?...

***

Sumber :
Mailis DikBud@yahoogroups.com
Sabtu, 20 September 2008

Orang Yang Tersesat

Oleh : Yusa.
http://majlismajlas.blogspot.com

Adalah lebih baik menghindari menggunakan ilmu-ilmu kita untuk memperbanyak harta dunia saja dengan melupakan Allah Swt sama sekali dan merasa dirinya paling benar, hindari niat yang seperti itu sebab ini hanya akan menjadikan kita sombong, merasa mulia, merasa kuat dan menang karena banyak orang yang mengikuti kita.

Orang-orang yang mengikuti kita menganggap kita orang yang mulia di mata Allah Swt dikarenakan mereka melihatnya begitu, mereka melihat kita alim, banyak amal dan sholeh. Padahal apa yang mereka lihat adalah skenario kita agar dianggap begitu, kita ingin dimuliakan oleh masyarakat. Sebenarnya kita tidak alim (berilmu), kita hanya merasa diri kita alim (berilmu) lalu bertindak laku meniru-niru orang yang benar-benar alim dengan berpakaian seperti orang alim dan dengan berkata-kata seperti orang alim terbukti dengan cara kita mencari uang atau rizqi dengan tidak peduli apakah itu cara halal atau harom, tidak peduli apakah cara kita itu merugikan orang lain atau tidak...kita tidak peduli, yang penting keinginan kita tercapai. Kita hanya berharap dan senag jika masyarakat memuji kita, menyanjung kita saja tanpa kita memperhatikan amal ibadah kita.

Jangan karena kita sudah terlanjur dikenal sebagai orang alim (berilmu) kita lalu berbohong di depan masyarakat dan mengingkari kekeliruan kita demi terjaga gengsi kita. Kita takut tidak lagi dimuliakan masyarakat oleh karena itu kita memakai ilmu kita untuk berkelit, kita mencari-cari dan mengada-adakan alasan untuk menutupi kekeliruan kita agar masyarakat tidak tahu kekeliruan kita bahkan kalau perlu kita gunakan untuk "memaksa" mereka mengakui kekeliruan kita sebagai kebenaran. Semua jadi kacau, kebenaran sudah hilang dikarenakan keduniaan semata. Sudah tidak ada lagi Allah Swt di sana, sudah kalah oleh dunia.

Meski buruknya perbuatan kita itu tapi kita sama sekali tidak merasa keliru bahkan merasa paling benar sendiri, kita lalu merasa punya derajat tinggi di mata Allah Swt sebab kita menganggap diri kita sebagai ulama dengan segala pakaian dan kata-kata kita kita mirip-miripkan ulama. Itu sekedar untuk menutupi hati kita yang cinta terhadap dunia tapi kita tidak sadar kita sudah sangat mencintai dunia dan melupakan Allah Swt.

Kalau kita sudah seperti ini maka kita termasuk orang yang rusak, sangat rusak...rusak niat kita, rusak ilmu kita dan rusak amal ibadah kita. Kita hanya merasa alim (berimu) yang mengamalkan ilmu kita padahal amal ibadahnya tidak menunjukkan bahwa kita orang yang mengamalkan ilmu kita. Dalam kondisi seperti ini kita tidak bisa lagi diharapkan mau bertaubat.

Semoga kita semua terhindar dari perilaku yang demikian. Amin.
***

Sumber :
Mailis Sabili@yahoogroups.com
Sabtu, 20 September 2008

Senin, 15 September 2008

Enam Pertanyaan

Oleh : Mimi Ancilla

email : mimi_ancilla@yahoo.com

Sumber :
money_magnet@yahoogroups.com
Kamis, 4 September, 2008


Suatu hari Seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya. ..
Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan.. ..


Pertama...
"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini....???"
Murid-muridnya ada yang menjawab.... "orang tua", "guru", "teman", dan "kerabatnya" ..
Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar...
Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian".. ...
Sebab kematian adalah PASTI adanya....


Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua...
"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab..." negara Cina", "bulan", "matahari", dan "bintang-bintang" ...
Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar...
Tapi yang paling benar adalah "masa lalu"...
Siapa pun kita... bagaimana pun kita...dan betapa kayanya kita... tetap kita
TIDAK bisa kembali ke masa lalu...
Sebab itu kita harus menjaga hari ini... dan hari-hari yang akan datang..


Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga....
"Apa yang paling besar di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab"gunung" , "bumi", dan "matahari".. ..
Semua jawaban itu benar kata Sang Guru ...
Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu"...
Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya...
Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi ...
Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini... jangan sampai
nafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat)...


Pertanyaan keempat adalah...
"Apa yang paling berat di dunia ini...???"
Di antara muridnya ada yang menjawab..." baja", "besi", dan "gajah"...
"Semua jawaban hampir benar...", kata Sang Guru ..
tapi yang paling berat adalah "memegang amanah"...


Pertanyaan yang kelima adalah... "Apa yang paling ringan di dunia ini...???"
Ada yang menjawab "kapas", "angin", "debu", dan "daun-daunan" ...
"Semua itu benar...", kata Sang Guru...
tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "meninggalkan ibadah"...


Lalu pertanyaan keenam adalah...
"Apakah yang paling tajam di dunia ini...???"
Murid-muridnya menjawab dengan serentak... "PEDANG...!! !"
"(hampir) Benar...", kata Sang Guru
tetapi yang paling tajam adalah "lidah manusia"...
Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati... dan
melukai perasaan saudaranya sendiri...


Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan KEMATIAN...
senantiasa belajar dari MASA LALU...
dan tidak memperturutkan NAFSU...???
Sudahkah kita mampu MENGEMBAN AMANAH sekecil apapun...
dengan tidak MENINGGALKAN IBADAH....
serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita...???

Cara mengubah bayangan masa lalu

Oleh : Johansyah S Arifin
>
sumber :
mailis Money_Magnet@yahoogroups.com
Selasa, 16 September 2008


> Dear All,
>

> "Siapa pun kita... bagaimana pun kita...dan betapa kayanya kita...
> tetap kita
> TIDAK bisa kembali ke masa lalu...
> Sebab itu kita harus menjaga hari ini... dan hari-hari yang akan
> datang...".
>
> Setuju... 200 %. Tapi sayangngnya, banyak diantara kita yang masih
> terperangkap dengan masa lalu. Jadi menjalani hidup hari ini, tapi
> tetap dibayang-bayangi masa lalunya dan dia tidak menyadarinya.
>
> Ada cara sederhana untuk mengetahui, apakah kita masih
> dibayang-bayangi oleh masa lalu kita dan bagaimana cara merubahnya.
>
> 1. Bayangkan atau rasakan anda sedang melakukan sebuah aktivitas

> (misalnya menggosok gigi atau apapun itu, anda sendiri yang
> memilihnya)
> 2. Lakukan hal yang sama dengan No. 1 diatas, tapi kejadiannya

> adalah 5 tahun yang lalu
> 3. Lakukan hal yang sama lagi dengan diatas, untuk kejadian 5 tahun
> yang akan datang
> 4. Lakukan ketiga langkah diatas dalam kondisi "Deep"
> 5. Apabila bayangan aktivitas yang anda lakukan 5 tahun yang lalu

> (langkah No. 2), anda " lihat" atau anda rasakan ada didepan
> anda, artinya anda termasuk orang yang masih dibayangi oleh masa
> lalu anda. Untuk itu lakukan langkah berikutnya
> 6. Sambil berdiri dan tetap dalam keadaan "deep", bayangkan anda
> mengangkat "masa lalu" yang ada didepan anda itu dan dengan
> penuh hormat letakan dia ("masa lalu" itu) ke belakang anda
> tanpa melewati kepala, sambil mengucapkan terima kasih karena
> dia telah menjadi bagian dari hidup anda dan telah memberi
> begitu banyak pembelajaran kepada keseluruhan hidup anda.
>
>>