Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Desember 2008

BHP dan Peran Serta Masyarakat

Oleh : Ahmad Baedowi, Direktur Pendidikan Yayasan Sukma

ADA mainan baru bagi para praktisi dan pemerhati pendidikan di
Indonesia, namanya badan hukum pendidikan (BHP). Kontroversi soal BHP
mencuat ketika DPR mengesahkan RUU BHP minggu lalu, dan sebagian
mahasiswa meresponsnya dengan cara biasa: demonstrasi, bahkan hingga
ke Gedung DPR. Di Makassar kegaduhan soal BHP diperparah aksi saling
lempar dan saling sikut antara polisi dan mahasiswa. Argumentasi
sederhana yang menggerakkan demonstrasi mahasiswa dan penolakan
terhadap RUU BHP dari para pengamat pendidikan adalah bahwa BHP kelak
akan membuat pendidikan menjadi mahal serta melepaskan tanggung jawab
pemerintah untuk memberikan pendidikan gratis kepada masyarakat.
Pertanyaan sederhananya adalah benarkah sebuah produk undang-undang
yang akan dibuat oleh pemerintah dan DPR membuat mereka lalai dan
menyengsarakan rakyatnya?
Sebagai sebuah konsep yang cukup penting bagi upaya reformasi bidang
pendidikan di Tanah Air, rancangan undang-undang BHP sebenarnya
merupakan kelanjutan dari amar Pasal 53 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Dalam pasal tersebut dinyatakan agar
penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan
pemerintah atau masyarakat harus berbentuk badan hukum pendidikan.
Ketentuan tentang badan hukum pendidikan itu akan ditetapkan dengan
undang-undang tersendiri.
Secara konseptual tujuan RUU BHP sebagai sarana untuk meningkatkan
peran serta dan partisipasi masyarakat memang cukup ideal. Bahkan dari
aspek pemberdayaan masyarakat, RUU BHP merupakan semacam revolusi
diam-diam dari pemerintah untuk memberikan kembali beban tanggung
jawab pendidikan kepada masyarakat. Karena seperti masa lalu, peran
dan kontrol masyarakat terhadap pendidikan lumayan baik. Hal itu dapat
ditunjukkan dengan tingginya minat masyarakat untuk aktif terlibat
dalam sebuah proses keberlangsungan pendidikan anak-anak mereka.
Namun, pasca-Instruksi Presiden SDN Nomor 10 Tahun 1973, pemerintah
secara terstruktur serta perlahan tapi pasti mulai mengambil alih
kepemilikan sekolah yang sebelumnya milik masyarakat menjadi milik
pemerintah dan dikelola sepenuhnya secara birokratis dan sentralistis.
Itulah titik awal dari keterpurukan sistem pendidikan karena
pemerintah secara jemawa memaksakan kehendaknya membangun sistem
ketergantungan yang mengubah
secara total mentalitas masyarakat untuk selalu meminta kepada
pemerintah.


Bahkan jika dilihat dari aspek tujuan, RUU BHP berpotensi untuk
membuat sebuah kesadaran baru bagi masyarakat agar manajemen
pendidikan kita haruslah dikelola berdasarkan kebutuhan
sekolah/madrasah sebagai bentuk otonomi manajemen pendidikan pada
tingkat kepala sekolah/madrasah dan guru yang dibantu masyarakat.
Selain itu, baik Undang-Undang Sisdiknas maupun RUU BHP dimaksudkan
pula sebagai upaya untuk menghapuskan diskriminasi antara pendidikan
yang dikelola pemerintah dan pendidikan yang dikelola masyarakat,
serta pembedaan antara pendidikan keagamaan dan pendidikan umum, yang
pada akhirnya masyarakat akan memperoleh kepastian hukum dalam
menerima pelayanan pendidikan secara bermutu, tidak diskriminatif,
berprinsip nirlaba, serta masyarakat bersama-sama dengan sekolah dapat
mengelola dana secara mandiri untuk mencapai tujuan dan cita-cita
pendidikan yang mereka terapkan dalam visi dan misi sekolah. Sekali
lagi pertanyaan sederhananya adalah apakah
pemerintah telah memenuhi kewajibannya dalam membina dan
mengembalikan peran, fungsi, dan tanggung jawab masyarakat terhadap
sekolah/madrasah?

Mengembalikan peran masyarakat
Masyarakat sebagai klien sekaligus konsumen bidang pendidikan dalam
kedua undang-undang belum sepenuhnya dijamin dan diberdayakan
pemerintah. Dari prioritas pembangunan pendidikan, hampir tak ada
program yang secara spesifik menyebutkan program pemberdayaan terhadap
komunitas sekolah apa yang dilakukan pemerintah. Bahkan program
semisal kampanye dan penyadaran tentang pentingnya masyarakat ikut
bertanggung jawab terhadap lingkungan belajar anak-anaknya, minimal
sekolah terdekatnya pun tak dilakukan. Konsep komite sekolah yang
sejauh ini ada sayangnya tidak diteruskan sebuah program yang
berkesinambungan, misalnya pelatihan yang memungkinkan komunitas
sekolah berkontribusi secara ajek dan jelas dalam ikut mengawal proses
pembelajaran di sekolah. Komunitas sekolah melalui komite sekolah saat
ini tak jauh berbeda dengan zaman Orde Baru dengan POMG-nya yang hanya
merupakan kepanjangan tangan pemerintah dan tukang stempel sekolah
untuk mengesahkan
program-program yang rata-rata justru memberatkan masyarakat.


Praktik distribusi dana bantuan operasional sekolah (BOS), misalnya,
meskipun ada keterlibatan komite sekolah, tetapi pada praktiknya di
banyak sekolah peran tersebut sangat lemah karena komunitas tidak
pernah dilatih dan diajak berpikir bersama merumuskan
kebijakan-kebijakan sekolah. Padahal seyogianya masyarakat memiliki
legitimasi dan hak untuk ikut terlibat dalam proses manajemen sekolah
(Dunn, 1998). Keberadaan BHP jangan-jangan juga merupakan alasan
pemerintah untuk melakukan intervensi tambahan terhadap
ketidakberdayaan masyarakat selama ini dalam berhadapan dengan seluruh
kebijakan pengembangan sekolah.
Karena itu, sebaiknya pemerintah merapikan dulu konsep dan eksistensi
komite sekolah di lapangan dengan turun sendiri, paling tidak melalui
bantuan para akademisi di kampus-kampus, untuk melakukan identifikasi
terhadap kemampuan masyarakat dalam berinteraksi dengan sekolah.
Masyarakat harus dilatih dalam sebuah program yang memadai agar mereka
juga menjadi lebih berdaya dan tidak dijadikan bulan-bulanan pihak
sekolah dan otoritas pendidikan. Jika hal itu tak dilakukan, jangan
berharap RUU BHP akan efektif dan efisien karena pasti akan
bermunculan kembali konflik-konflik baru di bidang pendidikan yang
bersifat lokal, persis seperti konflik-konflik yang terjadi dalam
kebijakan pilkada karena hal itu menyangkut ranah hukum. Dengan
demikian, segregasi di masyarakat akan semakin tajam dan proses
pendidikan akan terganggu.
Pentingnya mengembalikan peran masyarakat agar bertanggung jawab
terhadap persoalan pendidikan di tingkat lokal melalui sebuah program
pemberdayaan yang terstruktur dan sistematis adalah tuntutan yang
harus dipenuhi terlebih dahulu oleh pemerintah. Jika masyarakat paham
tentang penahapan perencanaan pendidikan, mengetahui arah dan tujuan
sekolah, mengerti meski sedikit tentang performance indicators baik
yang berkaitan dengan siswa dan guru, serta paham tentang arah
pengembangan kurikulum, sekolah pasti akan baik. Pengetahuan dasar dan
keterampilan tersebut adalah hanya beberapa di antara program yang
harus dilatihkan kepada masyarakat kita (Boyd and Claycomb, 1994).
Bahkan ujung dari keterampilan tersebut akan membawa masyarakat kita
cerdas dalam merencanakan pembiayaan pendidikan sehingga masyarakat
tak melulu curiga karena mereka selain dilibatkan, juga paham dan
mengerti hal-hal teknis tersebut.


Karena itu, penting diperhatikan bagaimana seharusnya pemerintah
merencanakan program pemberdayaan komunitas sekolah, paling tidak
sebelum RUU BHP menjadi undang-undang yang siap untuk
diimplementasikan. Bentuk pemberdayaan terhadap masyarakat paling
tidak mencakup program pemberdayaan orang tua (parent empowerment) dan
kemitraan masyarakat dan sekolah (partnership/communal parents and
teachers collaborate equitably). Dalam banyak penelitian tentang peran
serta masyarakat dalam pendidikan, bentuk kedua berupa kemitraan
sekolah dan masyarakat yang sederajat (equal partnership) merupakan
strategi yang paling efektif dan memberi pengaruh besar kepada hasil
belajar siswa (Bauch and Goldring, 1998).
Dari program pemberdayaan ini akan muncul kesimpulan, apakah misalnya
sebuah komite sekolah harus dipilih atau ditunjuk otoritas pendidikan.
Jika masyarakat tahu karena diberdayakan melalui sebuah program,
sangat mungkin akan terjadi banyak masalah yang muncul di sekitar
pemilihan dewan tertinggi baik di tingkat sekolah maupun ketika BHP
akan dilaksanakan. Namun, hal itu diharapkan akan menjadi pertanda
bangkitnya kepedulian masyarakat terhadap sekolah. Banyak kasus
ditemukan bahwa semakin demokratis masyarakat dalam merencanakan
kebijakan sekolah maka akan semakin baik kualitas sebuah proses
pendidikan akan berlangsung (Chibulka, 1997; Resnick, 2000).
Selain program pemberdayaan masyarakat, masalah penegakan hukum (law
enforcement) bidang pendidikan harus lebih dipertegas undang-undang.
Jangan sampai jika terjadi penyimpangan terhadap undang-undang
sanksinya menjadi tidak jelas. Banyak sekali contoh pelanggaran hak
konstitusi yang dilakukan pemerintah, tetapi lemah dalam hal penegakan
hukumnya. Misalnya dalam Undang-Undang Sisdiknas disebutkan bahwa
gerakan reformasi menuntut penerapan prinsip bahwa otonomi di tingkat
sekolah akan diberikan seluas-luasnya, tetapi penerapan ujian nasional
(UN) malah mengebiri otonomi tersebut agar mati suri. Karena itu, tak
dapat dibayangkan apa jadinya jika Undang-Undang BHP dijalankan,
tetapi masyarakat tetap tak diberdayakan dan pelanggaran tetap tak
bisa dikenakan kepada pemerintah sebagai pembuat undang-undang.
***

sumber :
http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NTE4Nzc=

Sabtu, 11 Oktober 2008

The Power of Dream:

Impian akan membuat diri Anda menjadi besar!

By : hernowo hasim
hernowo_mizan@yahoo.com

Yakini sesuatu yang Anda impikan dan impikan apa yang Anda yakini,
maka impian Anda akan jeadi kenyataan.

Dare to Dream! Beranilah bermimpi! Oleh karena impian akan membuat
Anda menjadi besar.

Ungkapan di atas umumnya harus disimak dan disikapi dengan arif dan
bijak bahwa yang dimaksud ungkapan tersebut bukanlah menyarankan kita
untuk tidur dan bermimpi dan kemudian mengharapkan memenangkan lotere
kehidupan. Ungkapan itu menunjukkan bahwa kita perlu merencanakan
suatu cita-cita yang besar yang memang ingin kita raih (kita impikan).
Setelah itu, kita harus fokus dan bekerja keras untuk mewujudukan
impian kita menjadi kenyataan.

Jangan pernah takut bermimpi, sekalipun akhirnya tidak seluruh impian
Anda terwujud. Oleh karena itu, jauh lebih baik seseorang mencapai
sebagian dari impian (cita-cita)-nya daripada sama sekali tidak
memiliki keinginan untuk mencapai cita-citanya.

*

Kata-kata di atas saya temukan di buku The Power of Dream karya
Tjiptadinata Effendi. Banyak buku tentang "bermimpi" yang sudah saya
baca. Hampir semuanya berbicara dengan "nada" yang sama. Salah satu
buku yang menurut saya dahsyat-menggetarkan adalah karya Dr. Waas,
Imagine That! Buku ini sangat praktis karena melatih kita (terutama
anak-anak di sekolah) untuk berani "bermimpi". Tanpa kita atau
anak-anak kita dilatih untuk berani bermimpi, ada kemungkinan hidupnya
akan sangat cupet (kerdil).

Di halaman 73 buku Pak Tjiptadinata itu, saya pun menemukan sesuatu
yang praktis, tidak terlalu sulit untuk saya lakukan:

Pertama, ciptakanlah mimpi Anda. (Saya, Hernowo, biasa memenafaatkan
kegiatan menulis untuk menciptakan mimpi saya. Dengan menulis, saya
bisa merumuskan mimpi saya dengan jelas dan mengecek apakah mimpi saya
itu memotivasi saya untuk mewujudukannya atau tidak).

Kedua, yakini apa yang Anda impikan. (Menurut saya, Hernowo, keyakinan
itu akan datang jika apa yang ingin saya yakini itu jelas, terang
benderang, dan sangat logis/rasional. Jika tak jelas (tak menerangi
pikiran saya) apa mungkin saya meyakini sesuatu yang menggelapi, yang
ruwet, yang berantakan?).

Ketiga, mimpikan apa yang Anda yakini. (Setelah muncul keyakinan dalam
diri saya, Hernowo, saya pun kemudian merasakan dorongan (motif) yang
luar biasa agar saya membawa mimpi saya itu senantiasa hadir setiap
saat di dalam diri saya. Kadang, seperti yang disampaikan di poin
ketiga ini, saya meyakini hal-hal yang bisa saya raih. Tapi saya
membiarkan, tidak memimpikannya, ya akhirnya kemampuan saya untuk
meraih itu menjadi musnah. Jadi, sebuah keyakinan kadang memang harus
dimimpikan juga).

Keempat, jika 1-3 sudah Anda jalankan, mimpi Anda akan menjadi
kenyataan. (Kenyataan itu tidak harus terjadi 100% seperti apa yang
saya, Hernowo, mimpikan. Kenyataan itu bisa saya wujudukan secara
bertahap, tidak sekaligus. Ini yang meringankan saya dan membuat saya
terus berani bermimpi. Kadang 40% terwujud. Seminggu kemudian 60%
terwujud. Sebulan 80% dan seterusnya, yang akhirnya 100% terwujud.
Hidup itu berproses, bukan sekali jadi dan instan!).

Selamat bermimpi, kawan....
***

Sumber :
Mailis DikBud@yahoogroups.com
Kamis, 9 September 2008

KEBETULAN YANG BUKAN KEBETULAN

Oleh: Audifax
audivacx@yahoo.com

Research Director di SMART Center for Human Re-Search & Psychological
Development


"There's no accident", demikian kata Sigmud Freud. Intinya, tak ada
kebetulan murni di dunia ini. Setiap kebetulan adalah 'kebetulan yang
bukan kebetulan'. Filosofi inilah yang coba diusung James Redfield
lewat Celestine Prophecy. Redfield mengajak kita merasakan adanya
energi Ilahi yang bekerja dan muncul lewat kebetulan-kebetulan .
Inilah bukti bahwa alam semesta mendengar ketulusan doa tiap manusia
dan membantu lewat serangkaian kebetulan.

Jauh sebelum konsep Law of Attraction dikemukakan Rhonda Byrne dalam
'The Secret', Carl Gustav Jung sudah lebih dulu mengemukakan konsep
sinkronisitas. Konsep Jung inilah yang tampak kental mewarnai trilogi
novel 'Celestine Prophecy' karya Redfield. Novel yang menjadi best
seller di pergantian milenium itu telah menginspirasi banyak orang.

Pada Juni 2008, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan 'Celestine
Vision'. Di buku ini Redfield memaparkan landasan teoritis dari novel
'Celestine Prophecy'. Dijelaskannya bahwa alam semesta adalah sistem
dinamis yang digerakkan oleh aliran keajaiban-keajaiban kecil yang
berlangsung secara terus-menerus. Bukan itu saja. Alam semesta juga
merespon kesadaran kita melalui berbagai kebetulan yang dapat kita
alami setiap saat.

Hidup adalah Kemungkinan
Kebetulan bisa menyangkut munculnya seseorang pada saat yang tepat
dengan membawa informasi atau sesuatu yang memang kita cari. Bisa juga
kesadaran mendadak bahwa hobi atau ketertarikan yang kita miliki di
masa lalu, ternyata merupakan persiapan untuk menangkap kesempatan
atau peluang kerja di depan mata.

Psikolog Swiss, Carl Jung, adalah pemikir modern pertama yang
menjelaskan fenomena misterius ini. Ia menyebut dengan istilah
sinkronisitas. Jung berpendapat sinkronisitas adalah prinsip
sebab-akibat dalam alam semesta, hukum yang menggerakkan umat manusia
menuju pertumbuhan kesadaran yang lebih besar.

Dalam 'Celestine Vision', Redfield mengemukakan bahwa kunci paling
penting dalam upaya memanfaatkan berbagai sinkronisitas dalam
kehidupan kita, adalah tetap waspada serta meluangkan waktu untuk
mengkaji apa yang sedang berlangsung. Kita mesti mulai melihat bahwa
berbagai kebetulan dalam hidup kita, adalah misteri yang membawa kita
berhadapan langsung dengan pertanyaan-pertanya an spiritual yang lebih
dalam tentang kehidupan.

Di sini kita bisa mensimetrikan pendapat Redfield dengan Martin
Heidegger, yang mengungkapkan pemikiran bahwa barangsiapa mencari
kedalaman, mulailah dengan yang dangkal-dangkal dan melihat
kedangkalan dengan tatapan yang cermat dan dalam, maka kedalaman itu
akan muncul dari hal-hal yang bersifat permukaan.

Heidegger melihat bahwa manusia adalah entitas yang bergerak dalam
pemahaman tentang Ada-nya di dunia. Maka dalam keseharianpun, manusia
dapat memetik pemahaman tentang 'Ada' melalui kewaspadaan dan
meluangkan waktu untuk mengkaji apa yang sedang berlangsung. Dalam
'Being and Time', Heidegger mengatakan ini sebagai mistik keseharian,
yaitu bersikap mistis dalam keseharian; yang berarti menghayati
keseharian secara mendalam sampai ke dasar-dasar Ada kita sendiri,
dengan cara terus-menerus menanyakan Ada.

Sinkronisitas dan Energi Ilahi
Sinkronisitas bisa dirasakan ketika manusia bersikap mistis dalam
keseharian seperti dimaksudkan Heidegger. Sinkronisitas adalah
kesadaran tentang bagaimana hal-hal Ilahi terjadi dalam kehidupan
kita. Dalam sinkronisitas, terjadi penyatuan antara transendensi dan
imanensi. Tuhan tidak mengawang-awang di atas sana, melainkan hadir
melalui kebetulan-kebetulan di keseharian. Kebetulan yang sejatinya
merupakan jawaban atas doa kita.

Berarti di sini manusia mesti terlebih dulu membuat keputusan mengenai
arah hidup dan selanjutnya peka terhadap kebetulan-kebetulan yang
menuntun pada arah yang dituju. Dengan menyadari sinkronisitas,
diharapkan kita tak lagi melempar tanggung jawab hidup kita ke atas
langit, namun berani menghadapi dan memutuskan apa yang mau kita tuju.

Di sinilah kita diajarkan bertanggungjawab atas konsekuensi keputusan
hidup. Melalui cara pandang Celestine, manusia diajak melihat bahwa
alam semesta bukan bekerja atas dasar "Manusia berusaha, Tuhan
menentukan", melainkan "Manusia menentukan, Tuhan mengusahakan".

Jika penentuan dianggap ada di tangan Tuhan, maka tak ada tanggung
jawab manusia atas hasil keputusannya sendiri. Padahal, justru manusia
mesti menentukan terlebih dahulu apa yang diinginkannya. Jika
keinginan itu selaras dengan keseimbangan semesta, maka energi Ilahi
itu akan membantu (mengusahakan) tercapainya keinginan lewat
kebetulan-kebetulan yang sejatinya bukan kebetulan.

***

Senin, 22 September 2008

Tradisi Intelektual di Indonesia Masih Amatiran

Oleh : Machhendra Setyo Atmaja

Yogyakarta- “Ilmu yang didapatkan di dunia merupakan proses yang panjang". Universitas Muhammadiyah Se-Indonesia termasuk UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), adalah bagian dari universitas di Indonesia.

Indonesia sudah merdeka 63 tahun, tradisi intelektual belum memasyarakat, dan berakar, bisa dibilang masih amatiran,” kata Prof. Dr. H. M. Amien Rais, M.A. saat menyampaikan ceramah pada pengajian ramadhan bagi pejabat struktural UMY mengenai Peluang Pengembangan UMY Menjadi Universitas Unggul di UMY, Sabtu (20/09/2008).

Menurut Amien, Tugas yang sekarang harus dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta atau UMY, yaitu membangun pondasi sains, dan teknologi. Di dalam Al-Qur'an juga dijelaskan, mendorong kita sebagai orang yang beriman untuk membangun pondasi sains, dan teknologi.

Membangun pondasi yang dimaksudkan disini untuk UMY, mendapatkan posisi atau degradasi atau tingkatan yang paling tinggi di atas rata-rata, dengan universitas-universitas swasta di Indonesia.

Dalam Al-Qur'an jelas Amien juga jelas tertulis Barangsiapa ingin sukses di dunia harus memegang ilmu, barangsiapa ingin sukses di akhirat harus memegang ilmu, dan barangsiapa ingin sukses di dunia, dan akhirat harus memegang atau menguasai ilmu. Tidak ada lulusan dari manapun, sekalipun Harvard University dengan melamun, akan mendapatkan kesuksesan.

Lebih lanjut menurut Amien, kebanyakan penelitian-penelitian yang dilakukan dosen kualitasnya ala proyek, kalau semua proposal penelitian-penelitian dosen se-Indonesia dikumpulkan menjadi satu, tingginya hingga mencapai bulan, tetapi tidak ada sumbangsih ilmu untuk Indonesia. Kampus di negeri kita, masih tertinggal jauh di belakang dengan negara-negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, maupun Brunai Darussalam.

Amien mengatakan, jurnal akademis yang diciptkan oleh para intelektual Indonesia, belum membantu koleksi dunia untuk penerapannya. Frekuensi tulisan dari akademisi Indonesia masih sedikit, yang disitir untuk keperluan dunia. Semakin banyak tulisan yang disitir, penelitian tersebut sangat bagus, tambah Amien. Untuk fasilitas kampus mengenai koleksi buku, dan jurnal ilmiah di perpustakaan belum representatif, kata Amin.

Amin berujar, anggaran perpusatakaan di universitas-universitas besar di Indonesia untuk membeli buku, masih lebih sedikit dengan anggaran gaji untuk karyawan, dan dosen. “Terakhir, mobilisasi mahasiswa untuk belajar di setiap harinya, masih belum optimal.

Salah satu kampus di Amerika animo pembelajarannya sangat sekali terasa, tidak ada mahasiswa ketika ada waktu kosong dipergunakan untuk bersendagurau, dan bercerita dengan pacaranya, atau bermain handphone seperti di Indonesia, mahasiswa di kampus tersebut sibuk membaca di perpustakaan hingga diusir oleh penjaga perpusatakaannya.

Kita harus mencontoh mobilisasi mahasiswa seperti itu, kalau mahasiswanya belum sadar dilakukan dosennya terlebih dahulu,” tambahnya.

Sekarang ini, banyak mahasiswa yang lebih pintar daripada dosennya karena sering membaca buku, dan mencari informasi dari internet, tambah Amien.

Kedua, di tiap-tiap fakultas perlu diadakan rotasi diskusi antar dosen, dan mahasiswa. Dosen mempersiapkan materi sesuai dengan topik yang akan dibahas, mahasiswa dapat mendiskusikan materi tersebut, ujar Amin.

Ketiga, jangan melupakan bahwa dosen memintarkan mahasiswa, apapun yang dosen lakukan di kampus harus mendahulukan mahasiswanya.

Keempat, terapkan konsep e-library, perbanyaklah koleksi buku, dan jurnal ilmiah di perpustakaan, minimal di tiap tahunnya membeli 40-50 jurnal internasional, agar kita tidak ketinggalan dalam mengikuti riset dari luar. K

elima, tidak perlu menutup diri, jalin kerjasama dengan universitas-universitas asing yang ternama melalui embassy yang ada di Indonesia, kebanyakan mereka sangat terbuka untuk memberikan informasi mengenai universitas ternama di negaranya. “Lebih baik heterogen, daripada homogen,” terangnya.(mac)
***

sumber http://www.muhammadiyah.or.id/

Matematika Sedekah

ARTIKEL USTADZ YUSUF MANSUR

• Pengantar
• Matematika Dasar Sedekah
• Memberi Lebih Banyak, Menuai Lebih Banyak
• 2.5 % Tidaklah Cukup
• Coba Sedekah 10%
• 2.5 Itu Cukup, Kalau .

PENGANTAR

Sedekah bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa dan menutup kesalahan dan keburukan. Sedekah bisa mendatangkan ridha Allah, dan sedekah bisa mendatangkan kasih sayang dan bantuan Allah. Inilah sekian fadilah sedekah yang ditawarkan Allah bagi para pelakunya.

Sebagaimana kita ketahui, hidup kita jadi susah, lantaran memang kita banyak betul dosanya. Dosa-dosa kita mengakibatkan kehidupan kita menjadi tertutup dari Kasih Sayangnya Allah. Kesalahan- kesalahan yang kita buat, baik terhadap Allah, maupun terhadap manusia, membuat kita terperangkap dalam lautan kesusahan yang sejatinya kita buat sendiri. Hidup kita pun banyak masalah. Lalu Allah datang menawarkan bantuan-Nya, menawarkan kasih sayang-Nya, menawarkan ridha-Nya terhadap ikhtiar kita, dan menawarkan ampunan-Nya. Tapi kepada siapa yang Allah bisa berikan ini semua? Kepada siapa yang mau bersedekah. Kepada yang mau membantu orang lain. Kepada yang mau peduli dan berbagi.

Kita memang susah. Tapi pasti ada yang lebih susah. Kita memang sulit, tapi pasti ada yang lebih sulit. Kita memang sedih, tapi barangkali ada yang lebih sedih. Terhadap mereka inilah Allah minta kita memperhatikan jika ingin diperhatikan.

Di pembahasan-pembahas an tentang sedekah, saya akan banyak mendorong diri saya dan saudara, untuk melakukan sedekah, dengan mengemukakan fadilah-fadilah/ keutamaannya. Insya Allah pembahasan akan sampai kepada Ihsan, Mahabbah, Ikhlas dan Ridha Allah. Apa yang tertulis, adalah untuk memotivasi supaya tumbuh keringanan dalam berbagi, kemauan dalam bersedekah. Sebab biar bagaimanapun, manusia adalah pedagang. Ia perlu dimotivasi untuk melakukan Akhirnya, mintalah doa kepada Allah, agar Allah terus menerus membukakan pintu ilmu, hikmah, taufiq dan hidayah-Nya hingga sampai kepada derajat “mukhlishiina lahuddien”, derajat orang-orang yang mengikhlaskan diri kepada Allah.

Matematika Dasar Sedekah

Apa yang kita lihat dari matematika di bawah ini?
10 – 1 = 19
Pertambahan ya? Bukan pengurangan?
Kenapa matematikanya begitu?
Matematika pengurangan darimana?
Koq ketika dikurangi, hasilnya malah lebih besar?
Kenapa bukan 10-1 = 9?

Inilah kiranya matematika sedekah. Dimana ketika kita memberi dari apa yang kita punya, Allah justru akan mengembalikan lebih banyak lagi. Matematika sedekah di atas, matematika sederhana yang diambil dari QS. 6: 160, dimana Allah menjanjikan balasan 10x lipat bagi mereka yang mau berbuat baik.

Jadi, ketika kita punya 10, lalu kita sedekahkan 1 di antara yang sepuluh itu, maka hasil akhirnya, bukan 9. Melainkan 19. Sebab yang satu yang kita keluarkan, dikembalikan Allah sepuluh kali lipat.

Hasil akhir, atau jumlah akhir, bagi mereka yang mau bersedekah, tentu akan lebih banyak lagi, tergantung Kehendak Allah. Sebab Allah juga menjanjikan balasan berkali-kali lipat lebih dari sekedar sepuluh kali lipat. Dalam QS. 2: 261, Allah menjanjikan 700x lipat.

Tinggallah kita yang kemudian membuka mata, bahwa pengembalian Allah itu bentuknya apa? Bukalah mata hati, dan kembangkan ke- husnudzdzanan, atau positif thinking ke Allah. Bahwa Allah pasti membalas dengan balasan yang pas buat kita.

Memberi Lebih Banyak, Menuai Lebih Banyak Kita sudah belajar matematika dasar sedekah, dimana setiap kita bersedekah Allah menjanjikan minimal pengembalian sepuluh kali lipat (walaupun ada di ayat lain yg Allah menyatakan akan membayar 2x
lipat). Atas dasar ini pula, kita coba bermain-main dengan matematika sedekah yang mengagumkan. Bahwa semakin banyak kita bersedekah, ternyata betul Allah akan semakin banyak juga memberikan gantinya, memberikan pengambalian dari-Nya.

Coba lihat ilustrasi matematika berikut ini:
Pada pembahasan diatas, kita belajar:
10 - 1 = 19

Maka, ketemulah ilustrasi matematika ini:
10 - 2= 28
10 - 3= 37
10 - 4= 46
10 - 5= 55
10 - 6= 64
10 - 7= 73
10 - 8= 82
10 - 9= 91
10 - 10= 100

Menarik bukan? Lihat hasil akhirnya? Semakin banyak dan semakin banyak. Sekali lagi, semakin banyak bersedekah, semakin banyak penggantian dari Allah.
Mudah-mudahan Allah senantiasa memudahkan kita untuk bersedekah, meringankan langkah untuk bersedekah, dan membuat balasan Allah tidak terhalang sebab dosa dan kesalahan kita.

Sebagaimana kita ketahui, hidup kita jadi susah, lantaran memang kita banyak betul dosanya. Dosa-dosa kita mengakibatkan kehidupan kita menjadi tertutup dari Kasih Sayangnya Allah. Kesalahan-kesalahan yang kita buat, baik terhadap Allah, maupun terhadap manusia, membuat kita terperangkap dalam lautan kesusahan yang sejatinya kita buat sendiri. Hidup kita pun banyak masalah. Lalu Allah datang menawarkan bantuan-Nya, menawarkan kasih sayang-Nya, menawarkan ridha-Nya terhadap ikhtiar kita, dan menawarkan ampunan-Nya. Tapi kepada siapa yang Allah bisa berikan ini semua? Kepada siapa yang mau bersedekah. Kepada yang mau membantu orang lain.
kepada yang mau peduli dan berbagi.

Kita memang susah. Tapi pasti ada yang lebih susah. Kita memang sulit, tapi pasti ada yang lebih sulit. Kita memang sedih, tapi barangkali ada yang lebih sedih. Terhadap mereka inilah Allah minta kita memperhatikan jika ingin diperhatikan Allah.

2.5 % Tidaklah Cukup

Saudaraku, barangkali sekarang ini zamannya minimalis. Sehingga ke sedekah juga hitung-hitungannya jadi minimalis. Angka yang biasa diangkat, 2,5%. Kita akan coba ilustrasikan, dengan perkalian sepuluh kali lipat, bahwa sedekah minimalis itu tidak punya pengaruh yang signifikan.

Contoh berikut ini, adalah contoh seorang karyawan yang punya gaji 1jt. Dia punya pengeluaran rutin sebesar 2jt. Kemudian dia bersedekah 2,5% dari penghasilan yang 1jt itu. Maka kita dapat perhitungannya sebagai berikut:

Sedekah: Sebesar 2,5%
2,5% dari 1.000.000 = 25.000
Maka, tercatat di atas kertas:
1.000.000 – 25.000 = 975.000

Tapi kita belajar, bahwa 975.000 bukan hasil akhir. Allah akan mengembalikan lagi yang 2,5% yang dia keluarkan sebanyak sepuluh kali lipat, atau sebesar 250.000. Sehingga dia bakal mendapatkan rizki min haitsu laa yahtasib (rizki tak terduga) sebesar:
975.000 + 250.000 = 1.225.000

Lihat, “hasil akhir” dari perhitungan sedekah 2,5% dari 1jt, “hanya” jadi Rp. 1.225.000,-. Masih jauh dari pengeluaran dia yang sebesar Rp. 2jt. Boleh dibilang secara bercanda, bahwa jika dia sedekahnya “hanya” 2,5%, dia masih akan keringetan untuk mencari sisa 775.000 untuk menutupi kebutuhannya.

Coba Sedekah 10 %.

Saudara sudah belajar, bahwa sedekah 2,5% itu tidaklah cukup. Ketika diterapkan dalam kasus seorang karyawan yang memiliki gaji 1jt dan pengeluarannya 2jt, maka dia hanya mendapatkan pertambahan 250rb, yang merupakan perkalian sedekah 2,5% dari 1jt, dikalikan sepuluh. Sehingga “skor” akhir, pendapatan dia hanya berubah menjadi Rp. 1.225.000. Masih cukup jauh dari kebutuhan dia yang 2jt.

Sekarang kita coba terapkan ilustrasi berbeda. Ilustrasi sedekah 10%.
Sedekah: Sebesar 10%
10% dari 1.000.000 = 100.000
Maka, tercatat di atas kertas:
1.000.000 – 100.000 = 900.000

Kita lihat, memang kurangnya semakin banyak, dibandingkan dengan kita bersedekah 2,5%. Tapi kita belajar, bahwa 900.000 itu bukanlah hasil akhir. Allah akan mengembalikan lagi yang 2,5% yang dia keluarkan sebanyak sepuluh kali lipat, atau dikembalikan sebesar 1.000.000. Sehingga dia bakal mendapatkan rizki min haitsu laa
yahtasib (rizki tak terduga) sebesar: 900.000 + 1.000.000 = 1.900.000

Dengan perhitungan ini, dia “berhasil” mengubah penghasilannya, menjadi mendekati angka pengeluaran yang 2 jt nya. Dia cukup butuh 100 rb tambahan lagi, yang barangkali Allah yang akan menggenapkan 2.5 ITU CUKUP, KALAU ..
Setiap perbuatan, pasti ada balasannya. Dan satu hal yang saya kagumi dari matematika Allah, bahwa Spiritual Values, ternyata selalu punya keterkaitan dengan Economic Values. Kita akan bahas pelan-pelan sisi ini, sampe kepada pemahaman yang mengagumkan tentang kebenaran janji Allah tentang perbuatan baik dan perbuatan
buruk.

Kita sedang membicarakan bahwa sedekah 2,5% itu tidaklah cukup.
Mestinya sedekah kita, haruslah minimal 10%. Dengan bersedekah 10%, insya Allah kebutuhan- kebutuhan kita, yang memang kita hidup di dunia pasti punya kebutuhan, akan tercukupi.

Dari ilustrasi diatas, saya memaparkan bahwa ketika seorang karyawan bersedekah 2,5% dari gajinya yang 1jt, maka “pertambahannya” menjadi Rp. 1.225.000. Yakni didapat dari Rp.975.000, sebagai uang tercatat setelah dipotong sedekah, ditambah dengan pengembalian sepuluh kali lipat dari Allah dari 2,5% nya.

Bila sedekah 2,5% ini yang dia tempuh, sedangkan dia punya pengeluaran 2jt, maka kekurangannya teramat jauh. Dia masih butuh Rp. 775.000,-. Maka kemudian saya mengajukan agar kita bersedekah jangan 2,5%, tapi lebihkan. Misalnya 10%.

Saudaraku, ada pernyataan menarik dari guru-guru sedekah, bahwa katanya, sedekah kita yang 2,5% itu sebenarnya tetap akan mencukupi kebutuhan-kebutuhan kita, di dunia ini, maupun kebutuhan yang lebih hebat lagi di akhirat, kalau kita bagus dalam amaliyah lain selain sedekah. Misalnya, bagus dalam mengerjakan shalat. Shalat dilakukan selalu berjamaah. Shalat dilakukan dengan menambah sunnah-sunnahnya; qabliyah ba’diyah, hajat, dhuha, tahajjud. Bagus juga dalam hubungan dengan orang tua, dengan keluarga, dengan tetangga, dengan kawan sekerja, kawan usaha. Terus, kita punya maksiat sedikit, keburukan sedikit. Bila ini yang terjadi, maka insya Allah, cukuplah kita akan segala hajat kita. Allah akan menambah poin demi poin dari apa yang kita lakukan.

Hanya sayangnya, kita-kita ini justru orang yang sedikit beramal, dan banyak maksiatnya. Jadilah kita orang-orang yang merugi. Skor akhir yang sebenernya sudah bertambah, dengan sedekah 2,5% itu, malah harus melorot, harus tekor, sebab kita tidak menjaga diri. Perbuatan buruk kita, memakan perbuatan baik kita.
Tambahi terus amaliyah kita, dan kurangi terus maksiat kita Kalikan Dari Target Supaya Beroleh Lebih.

Saudaraku, ini menyambung tulisan diatas. Kasusnya, tetap sama: Seorang karyawan dengan gaji 1jt, yang punya pengeluaran 2jt.
Bila karyawan tersebut mau hidup tidak pas-pasan, dan mau dicukupkan Allah, dia harus menjaga dirinya dari keburukan, dan terus memacu dirinya dengan berbuat kebaikan dan kebaikan. Kemudian, lakukan sedekah 10% bukan dari gajinya, melainkan dari pengeluarannya.

Kita lihat ya…
Sedekah 10% dari 2jt (bukan dari gajinya yang 1jt), maka akan didapat angka sedekah sebesar Rp. 200rb. Gaji pokok sebesar 1jt, dikurang 200rb, menjadi tinggal 800rb. Lihat, angka tercatatnya tambah mengecil, menjadi tinggal 800.000.

Tapi di sinilah misteri sedekah yang ajaib. Yang 200rb yang disedekahkan, akan dikembalikan sepuluh kali lipat oleh Allah, atau menjadi 2jt. sehingga skor akhirnya bukan 800rb, melainkan 2,8jt.

Dengan perhitungan di atas, kebutuhannya yang 2jt, malah terlampaui.
Dia lebih 800rb. Subhanallah. Apalagi kalau kemudian dia betul-betul mau memelihara diri dari maksiat dan dosa, dan mempertahankan perbuatan baik, maka lompatan besar akan terjadi dalam hidupnya. Sebuah perubahan besar, sungguh-sungguh akan terjadi. Baik kemuliaan hidup, kejayaan, kekayaan, hingga keberkahan dan ketenangan hidup.
Sekali lagi, subhanallah.
***
Sumber : http://alamster. wordpress. com/2007/ 01/04/matematika -sedekah/

Peran Ibu dalam membentuk generasi Unggulan bangsa

Oleh : Rahima

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Sebulan yang lalu, saya diminta oleh panitia Ramadhan untuk mengisi ceramah di Mesjid Indonesia Cairo (MIC). Saya, iakan,..namun, saya tak tahu apa judul yang akan diberikan kepada saya. Saya minta jadwal saya diakhir Ramadhan, karena saya harus mempersiapkan dulu bahannya. Panitia mengabulkannya.

Nama saya tercantum pas tgl 20 Ramadhan. namun, dua minggu sebelum tgl 20 itu, panitia sampaikan, kalau ada salah seorang penceramah berhalangan tanggal 26 nya. Yah..ngak papa, biar saya diundur saja.

Saya santai-santai aja, belum juga mempersiapkan bahannya. Bahkan tgl 18-19 saya pergi keluar kota sekeluarga, karena ada rihlah.

Malamnya sangat letih, pagi jam 11, panitia nelpon saya, bilang kalau tanggal 20 ini, ustadaz nya berhalangan lagi. Bisa tidak Ibu yang maju gantikan nantik?

" Wah,.saya bilang...ngak bisalah,..saya capek, baru pulang tadi malam, dan rencana pagi ini dah janji sama anak saya mo pergi ke toko mainan, ia minta belikan remote control, karena awal Ramadhan kita janji akan belikan dia remote control, kalau AlQurannya tammat selama sebulan Ramadhan ini. Saya belum siapkan bahannya sama sekali, habis dikirain tgl 26 sih. Ceramahkan perlu juga persiapan?"

Begitu saya sampaikan pada panitia. Duh,.Bu,.gimana yah, siapa lagi Bu,..orang pada pergi..?

Ketika itu anak saya mendengar, dan saya tanyakan pada anak saya. Gimana Rahmat, mama diminta ceramah malam ini, kita ngak jadi ke toko mainannya ngak papa?

"Ngak papa mama", jawab anakku. Ok. Tunggu dulu, saya tanyakan suami saya dulu yah?

Saya nelpon suami saya. :"Gimana Uda, Ima diminta ceramah malam ini?"
Jawab suami saya: "Yah,..itu terserah Ima, Ima siap ngak?". Lha,..uda tau sendirikan, kalau Ima belum siapkannya sama sekali.

Padahal hari-hari sebelumnya suami sering tanya, gimana, sudah disiapkan bahan ceramahnya belum? Selalu jawabku belum,..belum kebuka pikiran untuk nulis topik itu Uda",..selalu itu jawabku.".

Suamiku bilang. "Ima ini memang begitu orangnya, santai banget..sudah keburu2 baru bisa serius. "Ima bingung, sebab Ima akan berceramah masalah yang justru Ibu-Ibu, Bapak-bapak disana jauh lebih berpengalaman dari Ima, kan malu, kita masih seumur jagung dalam mendidik anak, dah nasehatin orang yang anak-anaknya dan berhasil, mereka jauh lebih berpengalaman lagi, jadi belum kebuka pikiran Uda...". "Yah,..sudah,..sampaikan aja apa yang mau Ima sampaikan, ngak usah pandang siapa yang hadir".

"Akhirnya suamiku jawab lagi dalam telpon, yah,.sudah, kan masih ada waktu beberapa jam, siapkan aja sekarang".

Akhirnya, aku melirik buku :"Fiqh Tarbiyatul Abnaak"(Fiqih bagaimana cara mendidik anak (dalam islam tentunya)".

Yah,..dari situ, aku baca satu buku sekaligus dalam jangka beberapa jam saja. Kemudian, kucoba untuk menuangkannya dalam tulisan. Dan alhamdlulillah selesai juga, dan kusuruh anakku memprintkannya di toko komputer, dengan membawa flash saja.

Alhamdulillah, saya bisa menyampaikan ceramah dengan sambutan cukup seru dan ramai juga. Bahkan ada yang minta tanya jawab. namun, karena besok bukan hari libur, maka sudah menjadi aturan, hanya besoknya hari libur saja yang ada tanya jawabnya. Syukurlah, saya pikir, sebab, hakikatnya suara saya sudah hampir hilang, dikarenakan saya masih batuk, dan kecapean dari luar kota. Mudah-mudahan dilain waktu aja tanya jawabnya.

Dari hasil tulisan, tidak semua yang ada didalam tulisan ini saya sampaikan, dan tidak semua pula yang saya sampaikan ada dalam tulisan ini. Susah juga, rencana akan dihafal saja, ternyata tidak bisa, sebab, saya tidak terbiasa kalau ceramah itu hasil hafalan. Lucu rasanya. Seakan kita tidak sedang berbicara dengan audiens kita. Kalau hasil hafalan yang kita tulis itu. Maka, point-pointnya saja yang saya sampaikan, dan bahasa tulisan tidak sama dengan bahasa lisan saat berdiri diatas podium. Diatas podium, biasanya lebih bersemangat, sementara bahasa tulisan, jauh lebih tenang, hanya isinya hampir sama saja, paling kurang lebih sedikit.

PERAN IBU DALAM MEMBENTUK GENERASI UNGGULAN BANGSA
OLEH Ibu Rahima Rahim .MA

Bismillahirrahmaanirrahim,

"Alhamdulillahilladziiy khalaqa Fasawwaa, Wa'a'thaa kullaasyaiin khalqahu Tsumma haday, wasshalaatu wassalamu, 'ala muhammdin nabiyyil Hudaay, Wa'alaa 'aalihi washahbihi wamanihtaday"

Qaalallahu, Ta'ala filQuranilkariim : "Wal Yakhshalladziina lau tarakuu minkhalfihim dzurriyyatan dhii'aafa khaafuu 'alaihim fal yattaqullaaha walyaquuluu qoulan sadiidaa".

"Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak(keturunan) yang lemah, hendaklah mereka takut akan kesejahteraan mereka, dan bertaqwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar".

Bapak-bapak, Ibu-ibu anak-anak siswa/siswi saudara saudari sekalian yang saya muliakan.

Berbicara masalah peran seorang Ibu, terhadap pembentukan generasi unggulan bangsa sebenarnya sangatlah pentingnya. Namun terlebih penting dan terlebih baik lagi, apabila kita memberikan topic ini, jauh lebih luas lagi, yakni Peran Orang Tua terhadap pembentukan generasi bangsa.

Sebab, hanya berbicara pada peran seorang Ibu serasa, kita berbicara hanya tentang seekor sayap burung saja, sementara burung kalau terbang tinggi memerlukan dua sayap sekaligus, akan pincang dan akan lumpuhlah ia tanpa kedua sayapnya. Begitupulalah pembentukan generasi bangsa unggulan, haruslah berpegang pada peran kedua orang tua, bukan Ibu saja, tidak pula Bapak saja, tetapi ayah dan Ibu sekaligus.

Bapak-bapak, ibu-ibu saudara saudari jamaah mesjid sekalian yang saya hormati,

Apabila saya yang diminta untuk menyampaikan masalah Peran orang tua ini, tentu dengan tanpa mendahului dan tanpa menghilangkan rasa hormat saya kepada para Ibu-ibu, bapak-bapak yang jauh lebih berpengalaman dari saya dalam mengurus dan membentuk generasi bangsa yang bahkan sudah banyak menghasilkan generasi cemerlang dan maju, baik maju sisi dunia, maupun sisi agamanya. Saya disini seakan sedang mengajari ikan yang sudah memang pandai berenang. Saya sedang memberikan ceramah pada orang yang jauh lebih berpengalaman dari saya ketimbang diri saya yang masih muda sekali belum, tua sekali juga belum, namun boleh dikatakan masih sedang mekar, belum layu lagi.

Namun, yang namanya amanah dan tugas yang sudah diberikan panitia kepada saya, untuk itu saya ucapkan terima kasih dan saya terima tugas, amanah ini dengan sebaik-baiknya dalam rangka saling nasehat menasehati dalam kebaikan, saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Bapak, Ibu Jamaah shalat tarawih yang saya muliakan.

Kenapa saya mengatakan bahwa keberhasilan pendidikan dalam membentuk generasi unggulan bangsa, diperlukan juga bukan selain ibu, namun Bapak juga?

Ini karena sudah sangat jelas, peran seorang ayahlah yang justru saya lihat banyak tercantum didalam AlQuranulkarim.

Coba mari sama-sama kita lihat. Siapakah yang banyak disebut dalam AlQuran dalam memberikan nasehat kepada anak-anaknya,..sang Ibukah..atau ayahkah..?

Jawabnya, banyak di ayah. Buktinya apa?

Mari kita lihat nasehat Luqman kepada anaknya(Q.S Luqman 31:13-19) : " Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu dia memberi pengajaran kepada anaknya, Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah ke dzaliman yang besar,

Wahai anakku, sesungguhnya jika suatu perbuatan seberat biji Sawi, dan berada dalam batu atau langit, atau dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya(membalasinya), sesungguhnya Allah maha halus, lagi maha mengetahui,

Hai anakku, dirikanlah shalat, suruhlah manusia mengerjakan yang baik, dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu adalah termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah Ta'ala.

Janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia, karena rasa sombong, dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi ini dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri,

Dan sederhanalah dalam berjalan, lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai".


Bapak, Ibu sekalian, mari kita lihat lagi peran nabi ayah nabi Yusuf yakni Ya'qub, putera Ishaq, putera nabi Ibrahim alaihissalam , tatkala ia menasehati anaknya Yusuf 'alaihissalam dalam menghadapi mimpi, untuk menjaga rasa iri kakak-kakaknya, apa yang beliau katakan, tatkala nabi Yusuf bercerita "Wahai ayahku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku, sebelas bintang, matahari dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku"?

Sang ayah yang bijak dan budiman berkata :"Wahai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar untuk membinasakanmu, sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia".(Q.S Yusuf 4-5).

Kita lihat lagi, bagaimana bijaksana dan tidak otoriternya nabi Ibrahim kepada anaknya Ismail, ketika mendapatkan perintah dari Allah Subhanahu Wata'ala untuk menyembelih anaknya, apa yang dilakukan nabi Ibrahim? Ia berdiskusi pada anaknya:"Wahai anakku, aku melihat dalam mimpiku, aku menyembelih kamu, maka apakah pandanganmu dalam hal ini?".(Q.S As Shaffat 102). Apa jawab anak yang shalih tersebut :"Wahai ayahku, lakukanlah apa yang dilakukan Allah kepadamu, sesungguhnya engkau akan mendapati aku dari orang-orang yang sabar".

Baik nabi Ibrahim ataupun nabi Ya'qub selalu mewasiatkan kepada anak-anaknya :"Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati, kecuali kamu dalam keadaan Islam".

Subhanallah, betapa wasiat yang agung pembentuk generasi unggulan bangsa, keimanan, keislaman dan jauh dari syirik, serta selalu berakhlakul karim, tidak sombong, dan tidak angkuh. Semua itu adalah sebahagian dari isi nasehat seorang ayah kepada anaknya. Lihatlah betapa besar peran ayah pada pembentukan generasi unggulan bangsa, apakah kita mengingkari firman Allah ta'ala ini, tentu tidak bukan?

Lantas, kita lihat lagi, bagaimana peran Ibu yang ada didalam AlQuranulkarim.

Mari sama-sama kita lihat, Ibundanya siti Maryam, ketika sedang mengandung anaknya Maryam, apa yang dikatakannya?

Ingatlah, ketika istri Imran berkata :"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang berada dalam kandunganku, menjadi hamba yang shaleh dan berkhidmad(di Baitul Maqdis), karena itu terimalah nadzar itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah yang maha mendengar lagi maha mengetahui,

Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, diapun berkata :"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan, dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu, dan anak lelaki tidaklah sama dengan anak perempuan, sesungguhnya aku telah menamainya Maryam, dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada pemeliharaan Engkau dari syetan yang terkutuk".

Subhanallah, seorang Ibu yang shalih, sebelumpun anaknya lahir, sudah meminta perlindungan kepada Allah akan keselamatan anaknya, bahkan keselamatan cucu/keturunan dari anak-anaknya tersebut.

Dan peran Do'a kedua orang tua, seharusnya selalu setiap selesai shalat selalu mendo'akan kebaikan untuk keturunannya."rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyaatina qurrata 'ayun, waj'alnaa lilmuttaqiinaa imaamaa".

Dapat dibayangkan, bukan sekedar berdo'a menjadi orang yang shalih, tetapi Imam bagi orang yang shalih, Imam orang bertqwa, betapa tinggi do'a orang tua terhadap anak-anaknya. Dan itulah kewajiban orang tua terhadap anak, yakni mendo'akannya selalu.

Dalam sebuah hadits riwayat atturmudzi, dan Ibnu Hibba dalam kitab shahihnya "Tidak ada yang bisa merubah/menolak qadha(yang sudah ditentukan oleh Allah Ta'ala), kecuali Do'a, dan tidak ada yang bisa menambah umur, kecuali kebaikan".
Dan hal ini dikuatkan dengan firman Allah Ta'ala :Allah menghapuskan apa yang dia sukai, dan menetapkan juga apa yang telah tertulis di Ummil kitaab".

Imam Assyaukaani dalam bukunya "Tuhfatuddzaakirin halaman 20 mengatakan :"Do'a adalah dari ketentuan Allah Ta'ala, sesungguhnya Allah telah menetapkan sesuatu terhadap hambanYa, muqayyidan terhadap hambanYa, kalau ia tak berdo'a, maka jika dia berdo'a maka akan berubahlah qadha tersebut dengan izinNya".

Orang tua dilarang mendo'akan baik dengan sengaja, atau tanpa sengaja untuk anaknya, sebab bisa jadi do'a tersebut diucapkan pas ketika waktu-waktu yang mana do'a di terima oleh Allah Ta'ala, dan diaminkan oleh Malaikat.


Dalam sebuah riwayat, seorang lelaki yang sedang memegang hewan ternaknya, kemudian dia melaknat hewan tersebut. Lantas apa kata rasulullah, :Sipakah yang melaknat hewan piaraannya tadi? Lelaki itu berkata ;"Aku Ya Rasulullah, kemudian Rasulullah menyuruhnya turun dan jangan menemai hewan piaraan itu lagi, dan Rasulullahpun berpesan kepada ummat islam: Janganlah kamu berdo'a (kejelekan) atas diri kamu, anak-anak-anak kamu, juga terhadap harta benda kamu, bisa jadi saat kamu berdo'a Allah mengabulkannya"(H.R Muslim 3009).

Bagi kedua orang tua, dalam mepersiapkan anak generasi unggulan bangsa, hendaklah bersikap taqwa, dan berkata yang benar. Sebab, Allah berfirman :"Sesungguhnya Allah menerima amalan dan do'a dari orang-orang yang bertaqwa"(Al Maidah 27)

Disebutkan dalam sebuah hadits, riwayat Muslim di shahihnya dari Abi Hurairah, :Seorang lelaki yang sedang dalam perjalanan panjang, dan berdo'a kepada Allah ta'ala :" Yaa..Rabbb..ya rabbb…!!, sementara makannanya dari hasil yang haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia diberi dari makanan gizi dari hasil yang haram, maka bagaimana bisa di kabulkan Do'anya?

Kemudian, untuk membentuk generasi unggulan bangsa, selain Do'a, maka anak dipersiapkan dengan Ilmu-Ilmu baik Umum dan Agama. Rasulullah bersabda :"kamu, lebih mengetahui urusan dunia kamu, dan kami lebih mengetahui urusan akhirat kamu". Dan carilah apa-apa yang diberikan Allah pada kamu akan urusan akhirat, tetapi jangan sampai kamu lupakan urusan dunia kamu.

Anak diajarkan agar terbiasa patuh dan berbakti serta berbuat baik kepada dua Ibu Bapanya, karena keridhaan Allah terletak pada keridhaan orang tua.(dan kepada kedua ibu bapa berbuat baiklah, dan janganlah kamu katakan kepada keduanya Ah..Cis,..dan janganlah kamu menghardik keduanya(apalagi sampai menjelekkannya dihadapan siapapun)

Anak diajarkan jangan menserikatkan kepada Allah. Tauhidullah hanya meminta kepada Allah Ta'ala, jangan mensekutukannya baik syiri' Ubudiyyah, maupun amaliyyah dan qauliyyah(Syirik Ibadah, amalan dan perkataan).

Anak-anak diajarkan Berakhlak yang baik, akhlaq mulia, yang cukup panjang dalam pembahasan ini, tidak mungkin dibahas disini.kita tahu, bahwa Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlaq
Demikianlah yang dapat saya berikan dalam waktu yang singkatnya, terlebih dan terkurang saya mohon dimaafkan. Apabila ada kesalahan, itu berasal dari saya dan syetan yang terkutuk, yang benar datangnya dari Allah semata.

Wassalamu'alaikum. Rahima. Cairo 20 Ramadhan 2008
***

Sumber :
Mailis syiar-islam@yahoogroups.com
Selasa, 23 September 2008

Sabtu, 20 September 2008

Rukhsah Dalam Shalat dari Allah

Oleh : Gizi Ruhani

Islam adalah agama yang mudah dan banyak sekali memberikan kemudahan (rukhsah) bagi umatnya. Termasuk dalam hal pelaksanaan ibadah shalat atas apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Berikut ini di antara bentuk-bentuk kemudahan dari Allah SWT tersebut.

1. Membukakan pintu ketika sedang shalat.

Hal ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadits. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, "Rasulullah sedang shalat di rumah dan pintu terkunci dari dalam, lalu saya datang dan meminta agar dibukakan pintu, lalu Rasulullah bergerak membuka pintu kemudian melanjutkan shalatnya." Aisyah berkata, "Pintu itu berada di arah kiblat." (HR Abu Dawud, Nasa'i, At-Tirmidzi, dan Ahmad)
Namun, sebelum melakukan gerakan tersebut (membuka pintu), hendaknya orang yang sedang shalat mengeraskan bacaan takbirnya agar diketahui oleh orang yang mengetuk pintu. Jika tidak mengerti juga maka hendaknya membuka pintu dengan gerakan yang sangat halus dan tidak memalingkan tubuhnya dari arah kiblat.

2. Shalat sambil menggendong bayi atau balita

Ada sebuah pertanyaan. Apa yang dilakukan seseorang (ibu) jika ia mempunyai bayi atau balita yang rewel yang menyebabkan ia susah melaksanakan shalat karena kerewelannya?
Islam adalah agama yang mudah dan memudahkan pemeluknya untuk melakukan ibadah tanpa terhalang oleh apa pun. Oleh karena itu, dalam kasus di atas, jika tidak ada orang lain yang mengasuhnya atau seseorang yang menjaganya ketika kita akan melakukan shalat, sebagai rukhsah (keringanan) bagi kita adalah kita boleh menggendongnya ketika kita shalat.

Adapun caranya adalah sebagai berikut.
a. Sebelum digendong terlebih dahulu bersihkan dari segala macam najis yang menempel pada bayi atau balita.
b. Niat seperti biasa sambil menggendong bayi atau balita.
c. Tangan tidak perlu diangkat ketika takbir dan juga tidak bersedekap di atas dada, karena hukum mengangkat tangan dan menyedekapkan di atas dada adalah sunah.
d. Ketika rukuk, tangan tidak perlu diletakkan di atas lutut, tapi tetap memegang erat bayi atau balita.
e. Ketika hendak sujud, letakkan bayi atau balita
tersebut di tempat yang mudah dijangkau tanpa
gerakan yang berlebihan.
f. Laksanakan seperti itu hingga shalat selesai.

Hal ini berdasarkan hadist dari Abu Qatadah , ia berkata, "Rasulullah shalat sedang cucunya Umamah putri Zainab berada di punggungnya. Bila beliau rukuk, diletakkannya cucunya tersebut dan bila berdiri dari sujud, diambilnya kembali dan diletakkan di punggungnya seperti semula."

Dari Abdullah bin Syidad dari ayahnya berkata, "Pada suatu ketika Rasulullah keluar untuk mengerjakan shalat Zuhur atau Asar, beliau membawa cucunya Hasan atau Husein, lalu maju ke depan dan meletakkan cucunya kemudian bertakbir. Ketika sujud, beliau sujud lama sekali hingga terangkat kepalaku. Terlihat olehku, ternyata sang cucu sedang berada di punggung Rasulullah, maka aku pun kembali sujud. Setelah selesai shalat, para jamaah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, lama sekali Anda sujud hingga kami mengira bahwa telah terjadi sesuatu atau wahyu sedang diturunkan kepadamu.’ Rasulullah menjawab, 'Semua itu tidak terjadi, melainkan ketika itu cucuku sedang berada di punggungku dan aku tidak mau mengganggunya hingga dia merasa puas bermain-main." (HR Ahmad, An-Nasa`i, dan Hakim)

3. Memberi isyarat dalam shalat.

Diperbolehkan memberi isyarat kepada orang yang sangat membutuhkan. Misalnya seseorang yang menanyakan kunci kendaraan, sedangkan kita sedang melaksanakan....

Selengkapnya: http://qultummedia.com/Rukhsah-Shalat-dari-Allah.html
***

Sumber :
mailis jaringanbukuindonesia@yahoogroups.com
ahad, 21 September 2008